PADA
REMAJA
REMAJA
“Remaja” adalah salah satu periode dalam
rentang kehidupan individu. Dimana mempunyai sebuah kesan tersendiri dalam
perjalanan setiap manusia. Dimana remaja pada fase perkembangan dan pertumbuhan
mempunyai peranan penting yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik
(seksual) sehingga mampu bereproduksi. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang
penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang
dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat.
Erikson berpendapat bahwa remaja merupakan
masa berkembangnya identity. Identity merupakan
vocal point dari pengalaman remaja,
karena semua krisis normatif yang sebelumnya telah memberikan konstribusi
kepada perkembangan identitas ini. Erikson memandang pengalaman hidup remaja
berbeda dalam keadaan moratorium, yaitu
suatu periode saat remaja diharapkan mampu mempersiapkan dirinya untuk masa
depan, dan mampu menjawab pertanyaan “siapa saya?” dia mengingatkan bahwa
kegagalan remaja untuk mengisi atau menuntaskan tugas ini akan berdampak tidak
baik bagi perkembangan dirinya. (Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd; 2010; 71)
Menurut Konopka, masa remaja ini meliputi (Dr.
H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd; 2010; 184):
a.
Remaja
awal: 12-15 tahun
b.
Remaja
madya: 15-1 8 tahun
c.
Remaja
akhir: 19-22 tahun
Monks, Knoers dan Haditono, (2001) membedakan
masa remaja atas empat bagian (Desmita; 2005; 190), yaitu:
1.
Masa
pra-remaja atau pra-pubertas (10-12 tahun)
2.
Masa
remaja awal atau pubertas (12-15 tahun)
3.
Masa
renaja pertengahan (15-18 tahun)
4.
Masa
remaja akhir (18-21 tahun)
Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja
merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap oragtua ke arah kemandiria (independence), minat-minat seksual,
perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
(Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd; 2010; 184)
Remaja merupakan periode tertentu dari
kehidupan manusia adalah suatu konsep yang relatif baru dalam kajian psikologi.
Di negara- negara Barat, istilah remaja dikenal dengan “adolescence” yang berasal dari kata dalam bahasa Latin “adolescere” (kata bendanya adolescentia = remaja), yang berarti
tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa. (Desmita; 2005;
189)
Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa
identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan
kompas. Dan akan berdampak, mereka akan mengembangkan perilku yang menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas,
atau menutup diri (mengisolasi diri) dari masyarakat.
Dalam merumuskan sebuah definisi yang memadai
tentang remaja tidaklah mudah, sebab kapan masa remaja berakhir dan kapan anak
remaja tumbuh menjadi seorang dewasa tidak dapat ditetapkan secara pasti.
Kesulitan untuk memastikan berakhirnya masa adolesen ini, diantaranya karena
adolesen sesungguhnya merupakan suatu ciptaan budaya, yakni suatu konsep yang
muncul dalam masyarakat modern sebagai tanggapan terhadap perubahan sosial yang
menyertai perkembangan industri pada anak ke-19 di Eropa dan Amerika
Serikat.setidaknya, hingga akhir abad ke-18, konsep adolesen belum digunakan
untuk menunjukan suatu periode tertentu dari kehidupan manusia. Baru sejak abad
ke-19 muncul konsep adolesen sebagai suatu periode kehidupan tertentu yang
berbeda dari masa anak-anak dan masa dewasa. (Desmita; 2005; 189)
Lustin Pikanus dalam
(Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd; 2010; 71-72) membahas tugas perkembangan remaja,
mengemukakan pendapat McCandless dan Evans yang berpendapat bahwa masa remaja
akhir ditandai oleh keinginan kuat untuk tumbuh dan berkembang secara matang
agar diterima oleh teman sebaya, orang dewasa, dan budaya. Pada periode ini,
remaja memperoleh kesadaran yang jelas tentang apa yang diharapkan masyarakat
dari diriny. Mulai dari Erikson, banyak
para ahli psikologi memadang bahwa identity
formation (pembentukan identitas / jati diri) merupakan tugas perkembangan
utama bagi remaja. Jika remaja gagal atau tidak memdapat keputusan dalam
menjawab pertanyaan “siapa saya” dan “mengapa saya?” maka mereka akan
meengalami peperangan dalam dirinya. Jika saja secara terus menerus, remaja
aktif menanyakan tentag kebingungannya mengenai idologi dan pekerjaan, atau
ketidakjelasan tentag peranan dirinya dalam kelompok sebaya atau orang dewasa,
maka dia memerlukan moratorium –tahun-tahun
tambahan untuk menemukan solusi yang dapat diterima– sebelum mereka mencapai
gaya hidup seperti orang dewasa. Pikunus juga mengemukaka pendapat William kay,
yaitu bahwa tugas perkembangan utama remaja adalah memperoleh kematangan sistem
moral untuk membimbing perilakunya. Kematangan remaja belumlah sempurna, jika
tidak memiliki kode moral yang dapat diterima secara universal. Selanjutnya,
William kay (Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd; 2010; 72) mengemukakan tugas-tugas
perkembangan remaja sebagai berikut.
a.
Menerima
fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
b.
Mencapai
kemadirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mempunyai otoritas.
c.
Mengembangkan
keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya
atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok.
d.
Menemukan
manusia model yang dijadikan identitasnya
e.
Menerima
dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
f.
Memperkuat
self-control (kemampuan mengendalikan
diri) atas dasar skala nila, prinsip-prinsip atau falsafah hidup (Weltanschauung).
g.
Mampu
meninggalkan reaks dan penyesuaian diri (sikap / perilaku) kekanak-kanakan.
Kemampuan seseorang untuk menemukan
sumber-sumber dan cara-cara untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhannya, dan
menuntaska tugas-tugas perkembangannya merupakan isyarat kunci bagi ketetapan
perkembangannya. Upaya mengeksplorasi dan belajar adalah penting untuk bergerak
ke arah self-realization. Periode
remaja merupakan gerakan berkesinambungan dari masa anak ke masa dewasa.
Pada masa remaja mulailah tumbuh dalam diri
seorang remaja seuatu dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang
dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan
dukanya. Proses terbentuknya pendirian atau pandangan hidup atau cita-cita
hidup dapat dipandang sebagai penemuan nilai-nilai kehidupan. Proses penemuan
nilai-nilai kehidupan tersebut adalah:
1.
Karena
tiadanya pedoman, si remaja merindukan suatu yang dianggap bernilai, pantas
dipuja walaupun sesutau yang dipujanya belum mempunyai bentuk tertentu, bahkan
seringkali remaja hanya mengetahui bahwa dia menginginkan sesuatu tetapi tidak
mengetahui apa yang diinginkannya.
2.
Objek
pemujaan itu telah menjadi lebih jelas, yaitu pribadi-pribadi yang dipandang
mendukung nilai-nilai tertentu (jadi personifikasi nilai-nilai). Pada anak
laki-laki sering aktif meniru, sedangkan pada anak perempuan kebanyakan pasif,
mengagumi, dan memujanya dalam khayalan. (Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd; 2010;
27)
Setelah remaja dapat menentukan pendirian
hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa remaja akhir dan telah
terpenuhilah tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian
hidup dan masuklah individu ke dalam masa dewasa.
FISIK
REMAJA
Sebelum masa kanak-kanak berakhir, tubuh anak
telah mempersiapkan diri untuk memulai tahap pematangan kehidupan kelaminnya.
Saat inilah yang dikenal dengan sebutan remaja – pubertas – berasal dari kata
Latin pubertas yang artinya adalah
“usia kedewasaan”. Berbeda dari pendapat umum bahwa masa remaja berlangsung
dengan cepat, ternyata perubahan yang terjadi pada masa ini berlangsung selama
kurang lebih 3 atau 4 tahun. (Elizabeth B. Hurlock; 1987; 127)
Secara
umum terjadi pertumbuhan dan perkembangan fisik yang sangat pesat dalam masa
remaja awal (12/13-17/18 tahun). Dalam jangka 3 atau 4 tahun anak bertumbuh
hingga tingginya hampir menyamai tinggi orang tuanya. Bagi laki-laki mulai
memperlihatka penonjolan otot-otot pada dada, lengan, paha, dan betis yang mulai
nampak. Bagi wanita mulai menunjukkan mekar tubuh yang membedakan dengan tubuh
kanak-kanak. Dalam kecepatan pertumbuhan, terutama nampak jelas dalam usia
12-14 tahun, dalam masa remaja putri bertumbuh demikian cepat meninggalkan
pertumbuhan remaja pria. (Andi Mappiare; 1982; 48)
Masa
remaja ditandai dengan percepatan pertumbuhan fisik. Pertumbuhan perkembangan
fisik pada akhir remaja menunjukkan terbentuknya remaja laki-laki sebagai
bentuk khasnya remaja laki-laki dan perempuan sebagai bentuk khasnya perempuan.
Proses pertumbuhan ini dipengaruhi percepatan pertumbuhan fisik remaja: (masa
kritis dari perkembangan biologis) serta berupa perubahan bentuk tubuh, ukuran
tinggi, dan berat badan, proporsi muka dan badan.
Pertumbuhan
fisik masa remaja mengalami perubahan dengan cepat, lebih cepat dibandingkan
dengan masa anak-anak atau masa dewasa. Untuk mengimbangi pertumbuhan yang
cepat itu, remaja membutuhkan makan dan tidur yang lebih banyak. Dslam hal ini
kadang orang tua tak mau mengerti dan marah-marah bila mendapati anaknya
terlalu banyak makan dan tidur. Perkembnagn fisik mereka jelas terlihat. Pada
tungkai dan tangan, tulag kaki da tangan, otot-otot tubuh berkembang pesat,
sehingga anak terlihat bertumbuh tinggi, tetapi kepalanya masih mirip dengan
anak-anak. (Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono; 1989; 63)
Penyebab Perubahan Pada Tahap Remaja
Sampai pada akhir abad lalu, para ilmuan
belum dapat mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan perubahan seseorang
dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Saat ini, telah dapat dikethui bahwa
penyebab perubahan pada masa remaja adalah adanya dua kelenjar yang menjadi
aktif bekerja dalam sistem endokrin. Kelenjar pituitary yang terletak di dasar otak mengeluarkan dua macam hormon
yang diduga erat hubungannya dengan perubahan pada masa remaja. Kedua hormon
itu adalah hormon pertumbuhan yang
menyebabkannya perubahan ukuran tubuh dan hormon
gonadotropik atau sering disebut hormon yang merangsang gonad – yaitu
merangsang gonad agar mulai aktif bekerja. Tidak beberapa lam sebelum saat
remaja dimulai, kedua hormon ini sudah mulai diproduksi dan pada saat remaja
telah semakin banyak dihasilkan. Seluruh proses ini dikendalikan oleh perubahan
yang terjadi dalam kelenjar endokrin. Kelenjar ini dikatifkan oleh rangsangan
yang dilakukan kelenjar hypothalamus, kelenjar
yang dikenal sebagai kelenjar untuk merangsang pertumbuhan pada saat remaja.
(Elizabeth B. Hurlock; 1987; 128)
Meskipun
kelenjar gonad, atau kelenjar kelamin ini, sudah ada dan aktif sejak seorang
dilahirkan, namun kelenjar ini seolah-olah tidur dan baru akan aktif setelah
diaktifkan oleh hormon gonadtropik dari kelenjar pituitary pada saat si anak
memasuki tahap remaja. Anak remaja ini akan mengalami pula perubaha fisik dan
psikologis. Segera setelah tercapai kematangan alat kelamin, maka hormon gonad
akan menghentikan aktivitas hormon pertumbuhan. Dengan demikian, pertumbuhan
fisik akan terhenti. Keseimbangan yang tepat yang tercipta antara kelenjar
pituitary dan gobad menimbulkan perkembangan fisik yang tepat pula. Sebaliknya
jika terjadi gangguan dalam keseimbangan ini, maka aka timbul penyimpangan. (Elizabeth B. Hurlock; 1987; 128)
Selama
masa puber ini seluruh tubuh mengalami perubahan, baik di bagian luar maupun di
bagian dalam tubuh, baik dalm struktur tubuh maupun dalam fungsinya. Hampir
untuk semua bagian, ternyata perubahannya mengikuti jadwal waktu yang dapat
diperkirakan sebelumnya. Perubahan tersebut tampak jelas sekali pada bagian
pertama masa puber.
Perubaha Tubuh Yang Utama Dalam
Masa Puber
Perubahan Ukuran Tubuh
Kecepatan pertumbuhan
mendadak menjadi cepat sekitar 2 tahun sebelum anak mencapai taraf pematangan
kelaminnya. Setahun sebelum pematangan ini, anak akan bertambah tinggi 10
sampai 15 cm dan bertambah beratnya 5 sampai 10 kg. Setelah terjadi pematangan
kelamin ini, pertumbuhan masih terus terjadi namun dalam tempo yang sedikit
lebih perlahan. Selama 4 tahun pertumbuhan, tinggi anak akan bertambah 25
persen dan berat tubuhnya hampir mencapai dua kali lipat. Anak laki-laki tumbuh
terus lebih cepat dari pada anak perempuan, dan anak laki-laki ini akan
mencapai bentuk tubuh dewasa pada usia 19 sampai 20 tahun, sedangkan anak
perempuan pada usia 18 tahun.
Perubahan
Proporsi Tubuh
Ciri tubuh yang kurang
proporsional pada masa puber ini tidak sama untuk seluruh tubuh, ada bagian
tubuh yang semakin tidak proporsional dan ada pula bagian tubuh yang justru
berkurang ketidakproporsionalnya. Proporsi yang tidak seimbang ini akan
berlangsung terus sampai seluruh masa puber telaah dilalui sepeuhnya sehingga
akhirnya proporsi tubuhnya mulai tampak seimbang menjadi proporsi orang dewasa.
Perubahan ini terjadi baik di dalam ataupun di bagian luar tubuh anak.
Misalnya, di masa kanak-kanak jantungnya kecil, sedangkan pembuluh darah kulit
kurang begitu tampak. Pada masa puber yang terjadi sebaliknya.
Ciri
Kelamin Yang Utama
Pada masa kanak-kanak,
alat kelamin yang utama masih belum berkembang dengan sempurna. Ketika memasuki
masa puber alat kelamin mulai berfungsi pada saat berumur 14 tahun. Sedangkan
pada anak perempuan, indung telurnya juga mulai berfungsi pada usia 13 tahun,
saat pertama kali haid. Bagian lain dari alat perkembangbiakan pada anak
perempuan saat ini masih belum berkembang dengan sempurna, sehingga belum mampu
untuk mengandung anak untuk beberapa bulan atau setahun lebih. Masa interval
ini disebut sebagai “saat steril” masa puber.
Ciri
Kelamin Kedua
Ciri kelmin kedua
inilah yang membedakan bentuk fisik antara wanita dan pria. Ciri ini pula yang
seringkali merupakan daya tarik antarjenis kelamin. Pertumbuhan tersebut
berjalan seiring dengan perkembanga ciri kelamin yang utama, dan keduanya akan
mencapai taraf kematangan pada tahun pertama atau tahun kedua masa remaja. Pada
anak perempuan antara lain tampak pertumbuhan buah dada dan pinggul membesar,
pada anak laki-laki antara lain terjadi perubahan suara, meningkatnya
pertumbuhan otot, tumbuhnya bulu kumis dan jenggot, dan perubahan jaringan
kulit. (Elizabeth B. Hurlock;
1987; 129)
Kematangan seskual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan
yang terjadi pada masa remaja, yang ditandai dengan perubahan pada ciri-ciri
seks primer (primary sex characteristics)
dan ciri-ciri seks sekunder (secondary
sex characteristics). Meskipun perkembanga ini biasanya mengikuti suatu
urutan tertentu, namun urutan dari kematangan seksual tidak sama pada setiap
anak, dan terdapat perbedaan individual dalam umur dari perubahan-perubahan.
(Desmita; 2005; 192)
Perubahan Ciri-ciri Seks Primer
Ciri-ciri seks primer menunjuk
pada organ tubuh yang secara lagsung berhubungan dengan proses reproduksi.
Ciri-ciri seks primer ini berbeda antara anak laki-laki dan anak perempuan.
Bagi anak laki-laki, ciri-ciri seks primer yang sangat penting ditunjukkan
dengan pertumbuhan yang cepat dari batang kemaluan (penis) dan kentung kemaluan (scrotum),
yang mulai terjadi pada usia sekitar 12 tahun dan berlangsung sekitar 5 tahun
untuk penis dan 7 tahun untuk skrotum. Pada skrotum, terdapat dau buah testis
(buah pelir) yang tergantung di bawah penis. Testis ini sebenarnya telah ada
sejak kelahiran, namun baru sekitar 10% dari ukuran matang. Testis mencapai
kematangan penuh pada usia 20 atau 21 tahun, yang mula-mula terlihat pada
peningkatan panjang penis, yang secara berangsur-angsur bertambah besar.
Perubahan-perubaha pada ciri-ciri seks primer pada pria ini sangat
dipengaruhi oleh hormon, terutama hormon perangsang yang diproduksi oleh
kelenjar bawah otak (pituitary gland).
Hormon perangsang pria ini merangsang testis, sehingga testis menghasilkan
hormon testosteron dan androgen serta spermatozoa. Sperma yang dihasilkan dalam
testis selama masa remaja ini, memungkinkan untuk mengadakan reproduksi untuk
pertama kalinya. Karena itu, kadang-kadang sekitar usia 12 tshun, anak
laki-laki kemungkinan mengalami penyemburan air mani (ejaculation of semen) mereka yang pertama atau dikenal dengan
istilah “mimpi basah”.
Sementara itu, pada anak perempuan, perubahan ciri-ciri seks primer
ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang disebut dengan menarche, yaitu menstruasi yang pertama
kali dialami oleh seorang gadis. Terjadinya menstruasi pertama ini memberi
petunjuk bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan telah matang, sehingga
memungkinkan mereka untuk mengandung dan melahirkan anak. Munculnya menstruasi
pada perempuan sangat dipengaruhi oleh perkembangan indung telur (ovarium). Ovarium terletak dalam rongga
perut wanita bagian bawah, di dekat uterus, yang berfungsi memproduksi sel-sel
telur (ovum) dan hormon-hormon
estrogen dan progesteron. Hormon progesteron bertugas untuk mematangkan dan
mempersiapkan sel telur (ovum)
sehingga siap untuk dibuahi. Sedangkan hormon estrogen adalah hormo yang
mempengaruhi pertumbuhan sifat-sifat kewanitaan pada tubuh seseorang
(pembesaran payudara dan pinggul, suara halus, dan lain-lain). Hormon ini juga
mengatur siklus haid.
Oleh karena itu, menstruasi pertama pada seorang gadis didahului oleh sejumlah
perubahan lain, yang meliputi pembesaran payudara, kemunculan rambut di sekitar
daerah kelamin, pembesaran pinggul dan bahu. Selanjutnya, ketika percepatan
pertumbuhan mencapai puncaknya, maka ovarium, uterus, vagina, labia, dan
klitoris berkembang pesat (Desmita; 2005; 192-193).
Perubahan Ciri-ciri Seks Sekunder
Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung
berhubungan dengan proses reproduksi, namun merupakan tanda-tanda yang
membedakan antara laki-laki dan perempuan. Tanda-tanda jasmaniah ini muncul
sebagai konsekuensi dari berfungsinya hormon-hormon yang ada dan berkembang
sejak masa puber. Diantaran tanda-tanda jasmaniah yang terlihat pada laki-laki
adalah tumbuh kumis dan janggut, jakun, bahu dan dada melebar, suara berat,
tumbuh bulu di ketiak, di dada, di kaki dan di lengan, dan di sekitar kemaluan,
serta otot-otot menjadi kuat. Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan
pinggul yang membesar, suara menjadi halus, tumbuh bulu di ketiak dan di
sekitar kemaluan.
SEKOLAH
Sekolah
adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa di bawah pengawasan
guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikaan formal, yang umumnya
wajib untuk ditempuh. Sekolah mempunyai arti penting bagi kehidupan dan
perkembangan peserta didik. Sekolah dipandang dapat memenuhi beberapa kebutuhan
peserta didik dan menentukan kualitas kehidupan mereka di masa depan.
Anak-anak
menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah sebagai anggota suatu masyarakat
kecil yang harus mengerjakan sejumlah tugas dan mengikuti sejumlah aturan yang
menegaskan dan membatasi perilaku, perasaan, dan sikap mereka ( Desmita; 2005;
187 ). Interaksi dengan guru dan teman sebaya di sekolah, memberikan suatu
peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan
ketrampilan sosial, memperoleh pengetahuan tentang dunia, serta mengembangkan
konsep diri sepanjang masa pertengahan dan akhir anak-anak.
Iklim
sekolah ( school climate ) adalah
sesuai atau suasana yang muncul akibat hubungan antara kepala sekolah dengan
guru, guru dengan guru, guru dengan peserta didik, dan hubungan antarpeserta
didik, yang memengaruhi sikap (attiude),
kepercayaan (beliefs), nilai (values), motivasi (motivation), dan prestasi orang-orang (personalia) yang terlihat dalam suatu (sekolah) tertentu. Sejumlah
pemikir dan praktisi dunia pendidikan kontenporer, (seperti Hanushek, 1995;
Bobbi De Porter, 2001; Hoy & Miskel, 2001; Sackney, 2004), menyarankan
kepada pihak sekolah agar mampu menciptakan iklim sekolah yang sehat dan
menyenangkan, yang memungkinkan siswa dapat menjalin interaksi sosial secara
memadai di lingkungan sekolah. Iklim sekolah yang sehat ini, di samping
dibutuhkan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, juga diperlukan untuk
mengantisipasi timbulnya perasaan tidak nyaman dan stres dalam diri siswa, yang
pada gilirannya akan memengaruhi prestasi belajar mereka ( Desmita; 2009; 301-302
).
Peran Sekolah
Memberikan Pengetahuan Seksual
Menurut June Reinisch (1990), direktur
dari Kinsey Institute for Sex, Gender, and Reproduction, umumnya para
warga AS lebi banyak mengetahui fungsi mobil dibandingkan fungsi-fungsi
tubuhnya secara seksual. Para remaja dan oarang dewasa Amerika tidak
terlindungi dari pesan-pesan seksual; Reinisch menyatakan bahwa remaja terlalu
sering dibanjiri oleh pesan-pesan seksual. Informasi seksual yang diterima
banyak sekali namun banyak yang menyesatkan. Dalam beberapa kasus, para guru
dalam pendidikan seks pun sering kali memperlihatkan kecenderungan untuk
mengabaikan seksualitas. Salah seorang guru pendidikan seks di sekolah menengah
atas menyebut “erogenous zone”
sebagai “crroneous zone” yang
menyebabkan para siswa menjadi berpikir bahwa bagian tubuh mereka yang secara
seksual sensitif ini merupakan kelainan (Jonh W. Santrock Jilid 1; 2007; 288).
Sebagian besar remaja tidak mengetahui
dalam tahap apa dari siklus menstruasi perempuan yang dapat menyebabkan
kehamilan. Dalam sebuah studi, 12 persen lebih dari 8000 siswa beranggapan
bahwa pil KB dapat memberika perlindungan terhadap AIDS, dan 23 persen
berpendapat bahwa mereka dapat mengetahui apakah calon rekan kencannya
terinfeksi HIV atau tidak hanya dengan sekedar melihatnya (Heichinger). Dalam
sebuah survei nasional yang melibatkan lebih dari 1500 remaja berusia 12 hingga
18 tahun, para responden menyatakan bahwa memiliki cukup informasi yang
diperlukan untk memahami kehamilan namun kurang informasi mengenai bagaimana
caranya memperoleh dan menggunakan alat kontrasepsi (Kaiser Family Foundation) (Jonh W. Santrock Jilid 1; 2007;
288-289).
Dengan pengetahuan yang disampaikan pada
para peserta didik tentang informasi seksualitas, diharapkan para siswa lebih
bisa mengambil sikap yang baik guna kebaikan dan kesiapan siswa pada dirinya di
masa mendatang. Namun peran sekolah dalam memberikan pengetahuan tentang
seksualitas juga membutuhkan sebuah dorongan dan peran serta partisipasi
keluarga.
Joyce
Epstein mengusulkan rekomendasi berikut untuk meningkatkan orang tua dalam
pendidikan remaja di sekolah:
·
Keluarga memiliki kewajiban dasar untuk
memberikan rasa aman dan kesehatan bagi remajanya. Banyak orang tua tidak mengetahui
perubahan-perubahan normal yang terjadi di usia remaja. Program
sekolah-keluarga dapat membantu dalam mendidik orang tua mengenai rangkaian
perkembangan remaja yang normal. Sekolah juga dapat menawarkan program-program
yang berkaitan dengan isu-isu kesehatan di masa remaja, termasuk infeksi yang
ditularkan secara seksual, depresi, obat terlarang, kenakalan remaja, dan
gangguan makan. Sekolah juga dapat membantu orang tua dalam menemukan tempat
yang aman bagi remaja ketika mereka menggunakan waktunya di luar rumah. Sekolah
merupakan komunitas yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat organisasi remaja
dan agen layanan sosial.
·
Sekolah memiliki kewajiban dasar untuk mengkomunikasikan
dengan keluarga siswa mengenai program-program sekolah dan kemajuan yang diraih
oleh siswa remaja. Guru
dan orang tua jarang sekali mengenal selama di sekolah menengah. Oleh karena
itu guru yang lebih langsung dan personal, perlu dilakukan. Orang tua juga
perlu memperoleh informasi yang lebih baik mengenai pilihan-pilihan mata
pelajaran dalam kurikulum akan menghasilkan pilihan-pilihan karir. Secara
khusus hal ini diperlukan bagi para siswa perempuan dan etnis minoritas yang
mengikuti mata-pelajaran ilmu pengetahuan dan matematika.
·
Orang tua perlu meningkatkan keterlibatannya
di sekolah. Orang
tua dan anggota keluarga lain dapat membantu guru di kelas melalui berbagai
cara seperti melakukan tutoring, mengajarkan keterampilan tertentu, memberikan
bantuan klerikal atau pemantauan. Keterlibatan semacam itu sangat dibutuhkan di
sekolah-sekolah pusat kota.
·
Orang tua perlu didorong untuk lebih terlibat
dalam kegiatan belajar remaja di rumah. Sekolah-sekolah menengah sering kali membangkitkan keprihatinan orang
tua mengenai keahlian dan kemampuan yang diperlukan agar dapat membantu
anak-anak remajanya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. “Matematika Keluarga”
dan “Komputer Keluarga” merupakan contoh dari program-program yang telah
dikembangkan oleh beberapa sekolah menengah untuk meningkatkan keterlibatan
orang tua dalam kegiatan belajar remajanya (Jonh W. Santrock Jilid 2; 2007; 118).
Memberikan Pengetahuan Tentang Kesehatan dan
Jasmani
Sebaiknya sekolah juga memberikan sebuah kurikulum yang berhubungan
dengan kesehatan fisik dan jasmani. Seperti adanya materi olahraga da
penjaskes. Dimana seorang siswa mampu memahami apa saja yang harus diperhatikan
dan dijaga guna mengembangkan aspek fisik remaja dengan baik dan teratur.
Sehingga siswa pun benar-benar paham dan mengerti apa saja yang harus dilakukan
untuk tetap hidup sehat dengan fisik yang sehat pula.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita, Psikologi
Perkembangan, Jakarta: Rosda, 2005.
Hurlock, Elizabeth. B., Perkembangan
Anak jilid 1, Jakarta: Erlangga, 1978.
Yusuf. LN, Syaiful, Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: RosdaKarya, 2010.
Mappiare, Andi, Psikologi Remaja, Surabaya:
Usaha Nasional, 1982.
Sarwono, Sarlito. W., Psikologi Remaja,Semarang:
RajaGerindo Persda, 1989.

Desmita. Psikologi Perkembangan
Peserta Didik, Bandung: RosdaKarya, 2009.
Santrock, Jonh W., Remaja jilid 1,
Bandung: Erlangga, 2007.
Santrock, Jonh W., Remaja jilid 2,
Bandung: Erlangga, 2007.